Penuai Jiwa (The Subtitute Soul Reaper)

Lima belas menit berlalu ketika perahu berlayar tenang membelah danau berair keruh. Sisa-sisa kejayaan Danau Lido, Sukabumi, sebagai destin...




Lima belas menit berlalu ketika perahu berlayar tenang membelah danau berair keruh. Sisa-sisa kejayaan Danau Lido, Sukabumi, sebagai destinasi wisata ditandai oleh bangunan cantik berarsitektur Belanda yang telah ditinggalkan penghuninya. Konon rumah itu pernah menjadi tempat persinggahan Bung Karno di masa lalu.

Kami bertujuh, keluargaku beserta kakak, amat menikmati pemandangan sore itu. Semburat merah sinar matahari mengintip dari balik dedaunan. Ya, kami memang sengaja menyewa perahu untuk mengelilingi danau yang tak seberapa luas sambil menikmati hidangan ala Timur Tengah, nasi mandi kambing.

Di bagian depan perahu, terdapat semacam teras yang dapat digunakan untuk bersantai sambil meluruskan kaki. Suasana  temaram menjelang magrib, tak menyurutkan semangat kami mengelilingi danau.

Riuh rendah obrolan antar keluarga terhenti ketika pandangan Hazel, anak keduaku, terkunci ke rumah tua sambil berkomentar, "Ma, ada yang jalan pakai baju hijau di rumah itu."

Keluarga kami saling berpandangan satu sama lain.  Kakak tertua bahkan memberi kode dengan matanya agar aku segera mengalihkan perhatian anak berusia sepuluh tahun itu.

"Gak mungkin lah, mungkin Haze salah liat. Itu rumah kosong. Inget warna kerudung hijau yang lagi dipakai ya?" ujarku sambil memutar otak cari alasan.

Hazel menatap wajahku dengan tatapan yang kosong, wajahnya pucat. Ia hanya mengedikkan bahunya sebagai respon atas ucapan mamanya barusan. Aku merasa anak ini melihat sesuatu yang membuat nyalinya ciut. Sejak itu ia tak lagi bersuara, semangatnya lenyap seketika.

***

"Semuanya lima ratus tiga puluh dua ribu. Sudah termasuk sewa perahu," ujar kasir restoran tempat kami memesan makanan. Setelah membayar, bertujuh berjalan menuju tempat kendaraan terparkir. Entah apa penyebabnya, tetapi perasaanku tak nyaman. Hazel terus memegangi tanganku erat sampai masuk ke dalam mobil.

"Haze ta-takut, i-ia begitu mirip dengan— ," bisik gadis kecil itu terbata di telinga setelah kami duduk, "sstt, baca doa. Haze bisa kan?" ujarku memotong pembicaraan untuk kembali membuatnya lupa akan kejadian di danau.
Ia mengangguk ragu tanpa melepaskan pandangan.

***

Perjalanan menuju Bekasi dari Sukabumi ditemani oleh hujan di sepanjang tol. Anak-anak terlelap tidur selepas salat Magrib di rest area, sedang aku tak dapat memicingkan mata barang sekejap teringat apa yang dikatakan oleh Hazel. Anak itu memang diketahui sebelumnya memiliki sense yang peka, tetapi kami sebagai orang tuanya selalu mengalihkannya ke hal-hal lain.

Perjalanan di tol yang terasa panjang ditambah dengan udara sejuk dalam kendaraan, membuat aku tak dapat menahan kantuk. Entah berapa lama tertidur, sampai akhirnya sinar hangat layaknya matahari sore menerpa wajah. Memaksaku membuka mata, walau berat. Sesuatu menggema di ruang ingatan.

"Ma ... "

Itu suara Hazel, aku mengenalinya. Dengan susah payah akhirnya netra ini dapat terbuka sambil menyesuaikan dengan keremangan keadaan sekitar .

'Tu-tunggu! Ini bukan di dalam kendaraan, tetapi di sebuah ruangan,' pikirku keheranan melihat perabotan kuno di sekeliling.

Sejenak mengalami disorientasi.

'Sejak kapan aku memakai gaun panjang satin berwarna hijau?' tanyaku dalam hati sambil meremas kain yang membalut tubuh.

Pertanyaan demi pertanyaan bermain di benak.

Setelah menyadari apa yang terjadi, air mata mulai menggenangi pelupuk. Berharap ini semua hanya  mimpi. Aku tak dapat menahan diri untuk berlari menuju jendela berbingkai putih dengan pemandangan danau di depannya. Jantung mencelus.

Di sana, di atas perahu ... Hazel menatap dengan wajah terperangah. Sedangkan wanita penuai jiwaku di belakangnya tersenyum samar.

End.


COMMENTS

Name

Curhat,1,English Version,1,Event,3,Featured,2,Fiksi Mini,16,Inspirasi,1,Mutiara Qalbu,8,Mutiara Qolbu,1,Prosa,1,Puisi,1,Ragam Artikel,8,Review Produk,2,The Zainal's,1,Tips,17,Traveling,3,Tutorial,1,Writing Tips,6,
ltr
item
Dee's Idea: Penuai Jiwa (The Subtitute Soul Reaper)
Penuai Jiwa (The Subtitute Soul Reaper)
https://lh3.googleusercontent.com/-XZjUsmM2gaM/XahONmlLhaI/AAAAAAAADUw/HX1HUz5c1UAOgPPVXvikPNuHj8tJmdn1gCLcBGAsYHQ/s1600/IMG-20191013-WA0040.jpg
https://lh3.googleusercontent.com/-XZjUsmM2gaM/XahONmlLhaI/AAAAAAAADUw/HX1HUz5c1UAOgPPVXvikPNuHj8tJmdn1gCLcBGAsYHQ/s72-c/IMG-20191013-WA0040.jpg
Dee's Idea
https://www.dewihepy.com/2019/10/penuai-jiwa-subtitute-soul-reaper.html
https://www.dewihepy.com/
https://www.dewihepy.com/
https://www.dewihepy.com/2019/10/penuai-jiwa-subtitute-soul-reaper.html
true
663427439463064019
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy